Rabu, 15 April 2009

Aku dan Kerjaanku, sebuah realitas hidup..........

By Me.


Perjalan hidup dan berliku telah membuatku berada dalam situasi yang mengharu biru........ Hari ini, adalah hari yang indah buatku, kerjaan baru, tantangan baru serasa menjadi teman hidup dalam pergulatan hidupku. Kerjaan baru serasa mengiurkan, bekerja dengan tantagan serta bekerja dengan kreatifitas dan inovasi merupakan usaha nyata yang sering menempati posisi tertinggi dalam jiwa-jiwa yang menggeliat untuk meraih kesuksesan…dan masa depan sebuah hal yang memposona.

Ide-ide yang ada merupakan hanturan yang tak berujung dari sebuah evolusi yang terukir dalam keseharianku, aku dan kerjaanku adalah sebuah wujud nyata dalam merevolusi diri kearah yang lebih baik, ya...aku bisa meraih masa depan dan harapan, karena disanalah mimpi itu ada, disanalah perwujudan cita-cita itu menantiku. Ya…aku harus yakin bahwa disanalah secercah harapan menantiku. Aku bekerja dengan segala impian dan target hidup, karena kerjaan telah menghantarkan jiwaku untuk memiliki masa depan yang lebih cerah.

Menghantarkan masa depanku lebih jauh keatas sana....dan akan kudedikasikan segala ilmuku untuk orang-orang yang memerlukanya. ”aku” dan kerjaanku adalah sebuah masa depan tentang kehidupanku hari ini dan…………Hari selanjutnya. Tapi terkadang aku sendiri bingung memikirkan seperti apa masa depan itu sendiri. Yang aku tahu..bahwa hari ini dan sekarang adalah hidupku yang nyata karena aku masih bisa bernafas di tempat ini.

Rabu, 24 Desember 2008

Daeng Bau, Perubahan Iklim dan Dampaknya terhadap Perempuan

MIa Djalil


“……Selama ini saya terus bekerja sebagai petani untuk membantu kebutuhan hidup keluarga. Bekerja sebagai petani sayuran, sudah menjadi pekerjaan yang telah saya tekuni sejak kecil, hingga sekarang. Saya bekerja bersama keluarga, ibu-ibu tetangga, disepanjang pesisir sungai Je’ne Berang Kabupaten Gowa. Bertani adalah jalan untuk memenuhi kebutuhan makanan keluarga saya, selain itu menjual hasil tanaman kepada penduduk sekitar sebagian saya makan……”
(Penuturan Daeng Bau
petani perempuan dari Gowa Sulsel)

Daeng Bau namanya, petani perempuan Makassar. Sejak kecil ia telah terlibat bersama keluarganya sebagai petani sayuran. Pekerjaan tersebut, telah ditekuni sejak tahun 80-hingga sekarang. Aktivitasnya bertani telah membuat Daeng Bau banyak belajar dari pengalaman hidup suka duka bercocok tanam yang kadang tidak membuahkan hasil bahkan rugi sama sekali.

Semua bermula dari pengalaman hidup, itu yang ia katakan pada saya saat pertama kali bertemu di acara Cop 13 di Bali. Tempat dimana ia bertutur tentang keprihatinan, keresahan, penderitaan dan kepedihan petani perempuan yang melanda warga Je’ne Berang. Bertani dengan susah payah mengharapkan tanaman pertanian bagus sungguh sulit. Sehingga tak mampu lagi untuk membantu kebutuahn hidup keluarga. Kondisi ini, menyebabkan kolpsnya ekonomi pertanian rakyat.

Ia berharapa bahwa suatu saat kehidupannya akan berubah dan bisa berhasil ”ya...pasti berhasil tapi entah kapan,” ucapnya dengan memelas. Berusaha dan bekerja tidak ada putus asa, adalah harapan hidup petani seperti Daeng Bau. Tak ada ”kelelahan,” untuk sebuah harapan yang menanti keajaiban ucapnya penuh keyakinan.

Begitu asyiknya bercerita, lapar terasa menggiring kami untuk beranjak dari balai menuju warung tenda yang ada dibelakang kampung Civil Society Forum. Pukul 13.15 di Balai itu, cerita tentang kampung halaman mewarnai perbincangan kami. Sesekali memandangi saya untuk meyakinkan bahwa apa yang ia katakan benar-benar menyulitkan hidupnya. Itu yang aku pahami.

Sekarang petani begitu sulit membaca kondisi alam. Kalau dulu petani selalu tepat menentukan musim tanam sekarang musim sering berubah dan panen gagal bahkan pola tanam juga sering bergeser. Serta curah hujan lebih banyak atau bahkan musim panas lebih lama.

Diatas meja jari-jari tangan Daeng Bau seperti akar pohon melingkari jemari saya, jelas terlihat jemari tersebut bekerja keras membolak-balikan bumi demi kebutuhan hidup anak dan suaminya. Berdua berangjak meninggal tempat tersebut, ”inilah nasib hidup,” petani seperti kami tetap saja tak berdaya. Hidup miskin mungkin telah menjadi takdir keluh Daeng Bau. Dari kecil kerjaan bertani ditekuni kelaurganya hingga ia berkeluarga kerjaan tersebut juga menjadi mawirasan yang tak jarang menyulitkan hidup.

Hampir semua hasil pertanian mengalami penurunan produksi dan terganggunya siklus akibat pola hujan dan anomali cuaca ekstrem, yang akhirnya berakibat pada pergeseran waktu tanam, musim tanam, dan pola tanam yang dilakukan oleh petani.

Kondisi tersebut berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Saat ini musim tidak bisa lagi di baca oleh petani. Kondisi cuaca tak bisa lagi ditebak. Petani sangat kerepotan untuk menanggulangi kerugian sebab hasil pertaniannya mengalami penurunan. Pengalaman pahit ini tidak saja dialami oleh Daeng Bau, tetapi masih banyak perempuan lain seperti Ibu Tuti dari kerawang, dimana tanaman padinya sampai sekarang mengalami kerugian, padahal pembelian bibit semua didapatkan dari hasil utang. Dan akhirnya harus tertatih-tatih membayar utang kepada para rentenir.

Beban berat telah dipikul petani perempuan seperti daeng Bau dan ibu Tuti. Tidak berhasilnya pertanian mereka menjadikan perempuan memiliki peran yang lebih besar ketimbang laki-laki, karena peran gendernya, dimana peran perempuan sering kali di tempatkan di ranah domestik, dan memegang kendali ekonomi dalam rumah tangga sebagai pengatur keuangan keluarga. Pembedaan peran gender tersebut menyebabkan perempuan rentan terhadap perubahan iklim sehingga mengakibatkan perempuan berada dalam situasi tidak adilan. Seperti diskriminasi, marginalisasi perempuan dan beban ganda. Kondisi inilah yang telah menyulitkan kehidupan perempuan terkait dengan perubahan iklim.

Cara-cara yang digunakan pemerintah untuk megurangi pemanasan global belum menjangkau dan mempertimbangkan kepentingan sebagian penduduk yang terkena dampak, khususnya perempuan. Dapat dikatakan perspektif yang digunakan oleh pemerintah dalam menyikapi pemanasan global dan perubahan iklim masih buta gender. Sementara perempuanlah yang paling rentan terhadap dampak perubahan iklim seperti yang terjadi pada Daeng Bau.

Sayangnya itu tidak menjadi suatu pokok bahasan utama dalam pembicaraan atau perdebatan tentang perubahan iklim global pada acara Cop 13 di Bali. Perempuan tetap saja tertinggal jauh dan belum dilibatkan dalam pengambilan keputusan terkait dengan perubahan iklim. Seringkali perempuan tidak menjadi prioritas utama untuk mendapatkan informasi, perempuan sering kali tertinggal bahkan dilupakan.

Padahal kerja-kerja bertani kebanyakan dilakukan oleh perempuan. Mulai dari proses perencanaan, pengelolaan sampai produksi semua dilaksanakan oleh perempuan. Namun kenyataannya perempuan tetap saja tidak terlihat dalam usaha-usaha mengatasi perubahan iklim.

Melihat kondisi tersebut, dapat dikatakan bahwa perubahan iklim menjadi sebuah fenomena yang tak bisa dibiarkan, sebab hal ini telah megancam kehidupan manusia terutama perempuan. Sehingga penting untuk memikirkan tindakan yang lebih konkrit dalam merespon situasi ini.


Selasa, 23 Desember 2008

Jalan Panjang Menuju Keadilan Terhadap Perempuan

Mia Djalil

Pengakuan terhadap harkat dan martabat perempuan merupakan titik tolak perjuangan perlingdungan terhadap perempuan, dalam mewujudkan sebuah tatanan yang adil, damai, dan sejahtera. Penghargaan terhadap harkat dan martabat perempuan harus dilakukan secara terus-menerus, dimanapun dan oleh siapapun, tanpa membedahkan latar belakang sosial, budaya, ekonomi, politik dan jenis kelamin. Setiap bentuk pembatasan atas dasar kepentingn apapun, baik oleh negara maupun kekuatan apapun, harus dihindari, Sebab hal itu selain merusak kemanusian itu sendiri, juga akan menghancurkan kehidupan perempuan.

Belum lagi masalah tersebut usai, persoalan baru yang juga muncul merusak kehidupan perempuan, adalah masalah perkembangan ekonomi global yang berwatak patriarki sering kali memunculkan berbagai kecendrungan yang makin merosotkan harkat dan martabat manusia bahkan telah meminggirkan upaya perlingdungan terhadap perempuan terutama hak perempuan untuk mendapatkan kehidupan yang layak.

Pemusatan kekuasaan ekonomi global di negara-negara industri yang didikuiti dengan restrukturisasi industri pro - ekonomi global di berbagai negara miskin-telah mengakibatkan kelangkaan kerja dan memunculkan migrasi dan perdagangan buruh perempuan. Sehingga mengakibatkan ketergantungan pada produk industri yang telah dikendalikan oleh berbagai perusahaan multi nasional dan hal ini telah memunculkan proses kemiskinan dan hilangnya kesempatan dan kemampuan perempuan serta keluarganya untuk mempertahankan keberlanjutan hidupnya, belum lagi sistem pengelolaan negara yang memunculkan sitem sentralistik, represif, tertutup, korup, dan menghambat kebebasan atau ekspresi politik perempuan sehingga perempun tertinggal jauh dari akses untuk mendapatkan kesempatan dalam segala kehidupannya.

Upaya menghadapi perkembangan sistem yang sistemik ini tidk hanya menjadi tanggung jawab perempuan tetapi juga merupakan tanggung jawab bersama laki-laki dan perempuan . Diperlukan upaya-upaya yang sistematis yang didasarkan pada semangat gerakan bersama untuk mengciptakan suatu tatanan sosial yang adil dan demokratis, yang didasarkan pada prinsip-prinsip hak azasi Manusia, keadilan, kesadaran, ekologis, kesadaran tentang keberagaman serta sikap anti diskriminasi dan anti kekerasan yang didasarkan pada sistem hubungan laki-laki dan perempuan yang setara, dimana keduanya dapat berbagi akses dan kontrol atas sumberdaya sosial, sumberdaya alam, budaya, ekonomi, dan politik secara adil.

dalam mewujudkan mimpi tersebut, strategi yang dilakukan adalah membagun gerakan perempuan yang bisa mewadahi berbagai upaya menciptakan tatanan yang lebih adil dan demokratis bagi perempuan dan masyarakat secara umum. Sehingga pada gilirannya perempuan mampu mendorong perubahan kebijakan yang mengarah pada pemenuhan kepentingan perempuan dan kepentingan keadilan bagi masyarakat.
(disadur dari profil SP)

"Hidup Terhormat tanpa kekerasan terhadap perempuan"

Salam
Mia

Jumat, 05 Desember 2008

Ketika Kata Damai Itu Hilang.


Oleh; Mia Djalil

Panas menyertai perjalananku menuju kampung baru di bantaran Cilincing, di tempat itulah, Sabtu 30 Juni 2008, sosok perempuan bersepatu laras panjang, bertopi lusuh warna hitam buram, bajunya kumal melintas di hadapanku. Berjalan tergesa-gesa menenteng karung goni putih bertongkat besi baja, berukuran 1 meter. Melangkahkan kaki menuju tong sampah yang letaknya tidak jauh dari pinggiran jalan tempat di mana saya berdiri menunggu tumpangan ojek.

mengais sampah, memungut gelas-gelas aqua, kertas, dan baju-baju bekas yang masih terlihat lusuh. Satu persatu dimasukkan dalam karung. Bergegas saya menghampirinya dan menyapanya, "siang bu?" tinggal dekat sini ya? tidak... “Jauh di ujung sana”. Ibu dari mana? dari kampung, Jawabnya.

Jangan dekat-dekat, ibu bau sampah dan kotor. Sepanjang hari ini ibu sudah berjalan jauh mencari dan mengumpulkan sampah-sampah ini. Ucapnya. Nan jauh disana sebuah harapan. Hanya untuk makan pun hidup mencari makan semakin susah. Kerja keras tak henti-hentinya ia tekuni. Setiap hari ia bangun pagi, berjalan menelusuri jalan demi jalan, mencari sampah. Itulah kerjaan ibu Sugi.

Andaikan hidup ini bergelimang materi melulu, andaikan hidup ini adil untuk semua, pasti ibu tersebut tidak melakukan kerja ini. Tapi itu tak mungkin, sebab ia hanya bisa mengais sampah, menggali tumpukan sampah, membolak-balikkan sampah, memilih dan memasukkannya ke dalam karung goni itu.

“Pahit memang”, ia terlahir di tengah keluarga yang tak pernah mempunyai status ekonomi yang cukup, sementara harga makan dan minun semakin melambung tinggi. Penghasilan pun sangat kecil dengan berteman sampah ia hanya bisa beli makan secukupnya. Tak ada yang berharga selain makan untuk hari ini mengisi perut biar bisa hidup hari ini dan esok. Lingkaran kekerasan tak berhenti disitu, kadang ia kerap kali dipecungdangi oleh anak-anak jalanan yang juga sama-sama lapar. Belas kasihan rupanya tak berpihak pada ibu Sugi sebuah ketidakadilan telah menimpa hidupnya, beban ganda telah ia pikul, kekerasan telah ia nikmati semua menjadi tidak adil buat Ibu Sugi.

Terasa ada beban berat yang ia tanggung. Meninggalkan kampung halaman, adalah keberanian yang ia kumpulkan, terpisah dari sanak saudara dan keluarga. Hidup sendiri, sepi dan kelam. Bersembur malam nan temaran. Mimpi hidup di kota jauh lebih susah, dari pada hidup di kampung. Pilu dan peluh bersenandung dalam hati. Andaikan pemerintah mau berbagi mungkin derita hidup tak seperti ini, andaikan keberpihakan masih bersama orang seperti ibu Sugi, pasti ia tak memikul kerja seperti ini. andai tanahnya masih ada digenggamannya mungkin ia tak sesedih ini.

Ia hijrah ke Jakarta hanya untuk mengadu nasib siapa tahu keberuntungan berpihak padanya. Itu mimpi ia, ketika pertama kali datang ke Jakarta. Di kampung halamannya dulu, ia hidup dengan bercocok tanam. Pertanian tradisional menjadi andalannya, memproduksinya dan memasarkannya adalah kerja yang menyenangkan sekaligus mendamaikan hati, tapi….. itu dulu! Ternyata ibu Sugi, membutuhkan tanah dan hasilnya untuk kelangsungan hidup. Membutuhkan tanah untuk tempat tinggal dan hidup bersama sanak saudara.

Bagi suatu negara agrarian seperti Indoensia ini, tanah mempunyai fungsi yang amat penting untuk kemakmuran dan kesejahteraan. Ibu Sugi pergi jauh meninggalkan kampung kelahirannya sebab diatas tanahnya telah berdiri mall besar yang menjulang tinggi. Kekayaan alam telah disulap menjadi modal dalam ekonomi produksi kapitalis dan kaum tani diubah menjadi buruh upahan dan bahkan menjadi pengais sampah sebab sumber makanannya telah berubah menjadi mall. Tanah telah berubah fungsi dari alat produksi subsistensi rakyat menjadi alat produksi bagi kapitalis.

Jelas terlihat bahwa antara pengusaha dan modal besar dengan negara telah kawin-mawin mempunyai pertemuan yang saling menguntungkan satu sama lain. Ketiga pihak ini bersekutu demi pencapaian kepentingan bersama.

Terlantarlah Ibu Sugi, beralih propesi yang dulunya bersinergi dengan tanah, kini harus bergelut dengan sampah. Mengais dan mengais sampah telah ia tekuni sejak ia berdomisili di kampung baru Cilincing. Kota yang dekat di hati nan jauh dimata. Tempat dimana Ibu Sugi hidup, gubuk kecil mungil, beratapkan rumbia, berdinding papan bekas, bergelantungan karung goni tak ada tikar pun kursi, berlantaikan tanah merah beralaskan koran. Hidup sendiri, sunyi dan sepi.

“Damai”. Itu telah jauh dari anganku, “damai”, itu hanya ada ketika hasil pertanianku masih berlimpah. “damai”, itu telah hilang. Andaikan pengurus negara ini tahu……!

“Damai”, itulah kata yang terucap ketika pertama kali bertemu dengan Ibu Sugi, sangat damai hidup ini andaikan bisa memenuhi kebutuhan hidup, kebutuhan sandang-pangan. Dulu ia bisa memberikan kedamaian kepada keluarga. Dulu ia bisa menikmati lezatnya makanan. Sebab ia memiliki tanah untuk menanam kebutuhan makan. Dulu ia memiliki pekerjaan dengan mengelola lahan pertanian, di tanah itulah ia bergelut dan bermandikan keringat untuk menghasilkan uang dan makan.


Tapi itu terjadi tahun 2000-an, setalah lahan saya lenyap, kata damai itu hilang dalam hidup saya. Makan pun tak tentu, pekerjaan pun jadi berubah. Dulu saya bekerja berteman dengan tanah, sayuran, cabai hijau, dan tomat. Sekarang saya bekerja berteman dengan sampah, bau busuk, lumpur merah Cilincing dan genangan air di kala banjir datang gubuk saya tergenang air. Kerja-kerja itu, harus saya lalui sebab tak ada pilihan lain, bekerja mengais sampah adalah keahlian saya saat ini. Sambil berlalu meninggalkan saya, meninggal sejuta kegundahan dan keprihatinan. Pergilah engkau wahai perempuanku yang tegar, ucapku dalam hati.